Bersatu, Berjuang Rebut Hak Sejahtera,

Lawan Kapitalisme Imperialisme!

image

Sepak Bola dan Kaum Miskin

dpnspri

SEPAKBOLA DAN KAUM MISKIN

 

Sepakbola kita hari ini seperti kisah Hamlet karya William Shakespeare. Berlatar Denmark, lakon tersebut mengisahkan balas dendam Pangeran Hamlet atas kematian ayahnya yang misterius. Ujung dari balas dendam tersebut adalah spiral kekerasan. Hamlet membunuh orang yang salah, Polonius. Anak Polonius balik melakukan balas dendam kepada Hamlet. Akhirnya, semua mati. Racun yang membunuh tokoh-tokoh dalam Hamlet merupakan alegori dari kekerasan. Sebagaimana racun, kekerasan bisa mematikan baik fisik maupun nalar manusia.

 

Sepakbola dalam lanskap industri kapitalis adalah katalisator bagi mereka yang dipinggirkan. Di lapangan sepakbola, para penonton bisa menyaksikan orang-orang kaya saling jegal bahkan berkelahi untuk saling menaklukan. Pemain bola adalah milyuner-milyuner papan atas olah raga. Nilai transfer mereka seringkali gila-gilaan besarnya. Bagi pemilik klub, sepakbola merupakan pundi-pundi pendapatan. Orang-orang kaya itu rela menghibur para penonton yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan bagian dari kelas menengah ke bawah, seperti buruh, pekerja informal bahkan pengangguran. Bila dalam pentas Gladiator para budak diadu dengan binatang buas dan ditonton orang-orang berpunya, dalam sepakbola terjadi sebaliknya.

 

Sebagai katalisator, sepakbola menjadi pelepasan. Ajang meluapkan kebebasan masyarakat yang teralienasi oleh cara hidup yang menghisap. Tidak hanya ketika pertandingan sepakbola berlangsung, sebelum dan setelahnya pun adalah waktu pentas untuk menunjukkan eksistensi diri. Bila dalam kehidupan sehari-hari eksistensi itu tenggelam, pada momen pertandingan sepakbola itu dimunculkan lewat konvoi tanpa memakai helm dengan motor yang dimodifikasi knalpotnya, menguasai jalanan dengan tabuhan genderang, bendera tim kebanggaan dan yel-yel yang diteriakkan tanpa henti. Pada kesempatan ini, hukum yang biasanya kejam pada mereka seolah tidak berlaku. Polisi hanya mengawasi tanpa bisa menindak walaupun mereka jelas-jelas melanggar UU lalulintas. Pada momentum ini, orang-orang yang terpinggirkan yang berwujud suporter sepakbola menjadi manusia bebas.

 

Dalam wujud suporter itulah ke-aku-an muncul. Meminjam diktum Descartes, “aku suporter maka aku ada.” Di luar itu, mereka seringkali dianggap tidak ada karena hanya merupakan bagian kecil dalam industrialisasi kapitalisme. Baik oleh lingkungan maupun negara, mereka dianggal nol karena posisinya yang marjinal. Filsuf Italia, Antonio Gramsci menyebut kelompok ini sebagai subaltern, yaitu masyarakat yang menjadi subyek hegomoni kelas yang berkuasa. Kelompok subaltern tidak memiliki suara karena dibungkam.

 

Di sinilah sepakbola menjadi penyelamat bagi kaum subaltern. Pada pertandingan sepakbola mereka bisa bersuara sebebas-bebasnya, baik mencemooh maupun memberikan pujian. Mereka bebas bertempik sorak, mengepalkan tangan, berjoget dan menabuh bebunyian tanpa ada yang membungkam. Sepakbola bagi mereka persis panggung musik dangdut pantura yang memberikan ruang untuk mengekspresikan diri setelah seharian dihisap oleh sistem yang tidak adil, dengan berjoget setengah mabuk sambil mendendangkan lagu. Oleh sebab itu, akan menjadi masalah ketika kompetisi sepakbola dihentikan karena ada kekerasan di dalamnya.

 

Penghentian kompetisi berrati kaum subaltern akan kehilangan katalisator bagi diri mereka. Energi mereka tidak ada pelepasannya lagi. Seperti kepundan gunung berapi yang mampat, bisa sewaktu-waktu meledak dengan daya rusak yang cukup besar. Dengan kata lain, penghentian kompetisi sepakbola bisa disebut sebagai pembungkaman suara kaum subaltern.  

 

Sepakbola memang merupakan pertunjukan maskulinitas. Kejantanan merupakan faktor yang dipertontonkan. Agresifitas merupakan yang utama. Sebagai peragaan maskulinitas, kekerasan akan selalu menjadi bagiannya. Akan tetapi mengapa kaum subaltern yang menjadi suporter dikorbankan?

 

Wajah Buruk, Cermin Dibelah

Bila membentangkan pandangan lebih luas, kekerasan dalam sepakbola hanyalah cermin. Kekerasan telah menjadi bagian dari masyarakat sejak Kain membunuh Habil. Dalam kehidupan, manusia menciptakan relasi dan sistem sosial agar masyarakat bisa berjalan dengan baik. Inilah yang membentuk struktur masyarakat. Namun, dalam proses perkembangannya, struktur ini berjalan timpang. Sekelompok masyarakat menguasai sekelompok yang lain. Di titik ini kekuasaan muncul. Akar masalah timbul karena, sebagaimana disampaikan John Galtung, kekuasaan bersifat eksploitatif dan represif.  Kekerasan pun tidak terhindarkan.

 

Saat sepakbola dianggap menghasilkan fanatisme, itu juga hanya cermin. Dalam perkembangan sejarah manusia, fanatisme sudah muncul ketika manusia terbagi-bagi dalam kelompok sosial. Masing-masing kelompok sosial berusaha membedakan dengan kelompok yang lain. Di sinilah fanatisme kelompok dipupuk dalam wujud sektarianisme.

 

Fanatisme juga merambah agama. Dalam epos sejarah manusia, Perang Salib merupakan salah satu bentuk fanatisme agama yang berdarah-darah. Perang yang berlangsung selama ratusan tahun itu telah membakar fanatisme masing-masing pemeluknya (Islam dan Kristen) untuk saling membunuh dan menghancurkan. Kejadian semacam ini masih terjadi hingga sekarang. Baik dalam politik maupun kehidupan sehari-hari, agama digunakan sebagai bahan bakar untuk menyulut fanatisme. Oleh sebab itu, politik identitas dan komunalisme pun menguat.

 

Dari kasus pelantang masjid hingga penggusuran, kita menyaksikan terjadinya kekerasan, fanatisme dan intoleransi sebagaimana dalam sepakbola. Apa yang terjadi adalah kita sedang menghadapi problem krusial menyangkut menipisnya tali persaudaraan. Sebagai bagian dalam teks Proklamasi “kami bangsa Indonesia”, rasa persaudaraan menjadi getas hanya karena dipicu kejadian-kejadian yang sebetulnya mudah diselesaikan. Situasi ini semakin parah ketika elit politik menggunakannya sebagai alat politik guna mendapatkan kekuasaan. Kita patut khawatir atas kejadian di sepakbola, namun mesti lebih khawatir lagi dengan kondisi di luar sepakbola.

 

Berita-berita di media massa memperlihatkan di tengah problem kesejahteraan dan keadilan sosial, masyarakat menjadi banal dalam menghadapi perbedaan. Rasa amarah lebih dikedepankan dibandingkan sikap ramah. Setiap perbedaan dan masalah seringkali diselesaikan dengan kekerasan dibandingkan memilih cara musyawarah. Di rumah tangga ada kekerasan suami terhadap istri serta orangtua terhadap anak maupun sebaliknya. Di ruang kelas ada kekerasan guru terhadap murid dan perkelahian sesama murid. Di masyarakat ada kekerasan semasa warga dalam wujud tawuran. Muncul pula kekerasan negara terhadap rakyat sebagai dampak pembangunan yang memunggungi kemanusian. 

 

Sepakbola menunjukkan bahwa wajah kita sebagai bangsa memang buruk. Persoalan sepakbola merupakan problem bangsa secara luas. Menyelesaikan persoalan sepakbola tidak akan tuntas kalau hanya dilakukan secara parsial tanpa mengatasi persoalan kebangsaan. Memecah cermin (menghentikan kompetisi sepakbola) justru akan menimbulkan masalah baru. Akar-akar kekerasan, fanatisme dan intoleransi itulah yang mesti dicabut terlebih dahulu.***(REDAKSI SPRI)