Bersatu, Berjuang Rebut Hak Sejahtera,

Lawan Kapitalisme Imperialisme!

image

Politik dan Budaya Gerombolan

dpnspri

Politik dan Budaya Gerombolan 

 

Oleh: Hanan RN

 

Budaya kita masih budaya gerombolan. Kita bergerombol menyebarkan berita bohong, bergerombol mengakui kesalahan dan bergerombol untuk lekas melupakannya. Bergerombol pula yang mayoritas mengeroyok yang minoritas. Bergerombolan pula menjadi hakim, jaksa dan pengacara sekaligus atas persoalan-persoalan yang muncul. Korupsi pun dilakukan secara bergerombol. Bupati, gubernur, pejabat pemerintah, pengusaha sampai anggota dewan secara bergerombol ditangkap komisi anti rasuah. Inilah yang menghilangkan karakter “aku” dalam kebudayaan kita.

 

Penyair Chairil Anwar mendeklarasikan “aku ini binatang jalang.” Filsuf Rene Descartes mempostulatkan “aku berpikir maka aku ada/cogito ergo sum”. Aku bukan sekadar untuk memperlihatkan eksitensi diri, tetapi untuk mempertegas bahwa “aku” berbeda dengan “aku” yang lain. Hidup manusia sebagaimana dikatakan sastrawan Pramoedya Ananta Toer bukan seperti menonton pasar malam. Manusia terlahir sendiri dan pulang sendiri. Di sinilah ia harus memiliki kediriannya sehingga tidak terombang-ambing hidup di bumi manusia.

 

Dalam zaman simulacra segalanya harus disikapi dengan hati-hati. Realitas yang tampak sudah diolah sedemikian rupa sehingga kebohongan bisa dianggap sebagai kebenaran. Inilah kenapa berita bohong/hoax begitu laku di pasaran. Ia telah menjadi industri untuk berbagai kepentingan. Bahkan dipakai sebagai strategi kebudayaan untuk menentukan mana budaya unggul dan yang pinggiran. Sebagaimana dilakukan Nazi di Jerman yang melemparkan kebohongan dengan mendaulat ras Arya sebagai ras unggul di atas ras-ras yang lain.

 

Kehilangan kedirian inilah yang menghasilkan mentalitas gerombolan. Ujungnya adalah pengelompokan berdasarkan identitas, baik itu agama, etnis maupun pilihan politik. Inilah yang kemudian memunculkan politik identitas.  Manusia penting memiliki identitas, paling tidak nama. Shakespeare mengatakan “apalah arti sebuah nama.” Ungkapan ini bukan untuk mengenyampingkan identitas, tetapi untuk menekankan pentingnya esensi. Yang terpenting dari bunga mawar bukan nama “mawar” itu, tetapi esensinya: keharumannya. Pun, dengan manusia. Yang membedakan manusia satu dengan yang lain bukan namanya, tetapi amal dan perbuatannya.

 

Politik identitas yang terjadi akhir-akhir ini hanya gerombolan nama, bukan subtansi. Akibatnya, yang terjadi hanyalah adu nama kelompok yang satu dengan kelompok lain, bukan adu gagasan maupen ide. Petarungan yang terjadi adalah pertarungan klaim-klaim kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri. Dampaknya, yang menonjol adalah saling rusak dan hantam di antara sesama anak bangsa. Identitas bukan dicari kesamaannya, tetapi perbedaannya. Titik temu dan titik simpul ditinggalkan. Titik pisahlah yang diagung-agungkan.

 

Di tengah sistem kapitalistik, politik identitas menjadi komoditi. Ia diperdagangkan di lapak-lapak politik demi meraih kekuasaan. Maka adagium “politik menghalkan segala cara” menemukan pembenarannya. Di sinilah politik menjadi kotor. Jika tujuan awal menurut Aristoteles adalah menciptakan eudaimonia/kesejahteraan, kini berubah hanya sekedar berebut kekuasaan demi kepentingan kelompok atau golongan.  Politik justru menciptakan malapetaka, bukan ketentraman. Saling sikut dan jegal menjadi tontonan setiap hari.

 

Dalam langskap politik identitas yang menguat maka yang menjadi korban adalah yang minoritas. Keberadaan mereka dieksploitasi oleh aktor-aktor politik untuk kepentingan mereka.  Yang minoritas dikelompokan sebagai “liyan”, dijadikan musuh bagi yang mayorias. Maka yang terjadi kemudian adalah tirani mayoritas terhadap minoritas. 

 

Etika dan politik tidak dapat dipisahkan. Etika berbicara tentang benar-salah, baik-buruk. Untuk menentukannnya orang Barat berpatokan pada nalar. Maka “aku berpikir untuk ada”. Pikiran menjadi utama dalam menentukan benar-salah, baik-buruk. Budaya kita mengenalkan bahwa untuk menentukan ukuran-ukuran etika, selain nalar, juga menggunakan penggalih/rasa. Bisa saja sesuatu baik dan benar menurut nalar, tetapi setelah dirasa-rasakan hal tersebut ternyata tidak tepat untuk dilakukan. Karena yang benar dan baik secara nalar bisa menjadi salah dan buruk bila berada dalam situasi yang tidak tepat. Penggalih/rasa inilah yang tidak dimiliki dalam kehidupan politik kita hari ini.

 

Dalam suatu waktu pujangga Jawa, Joyoboyo, menubuatkan bahwa kelak “orang Jawa tinggal separuh”.  Makna nubuat tersebut bisa diartikan bahwa manusia memiliki nalar tetapi tidak memiliki penggalih/rasa sehingga kediriaannya hanya separuh. Rupanya nubuat tersebut menemukan realitasnya hari ini. Kehidupan antar masyarakat hanya berkutat pada untung rugi dari ukuran nalar, tanpa ada rasa diantara satu dengan yang lain. Tenggang rasa dikesampingkan demi untuk memburu kebenaran diri sendiri dan kelompok. Dalam situasi seperti ini maka rasa saling curiga yang berkembang, bukan persaudaraan.

 

Aksi bela ini bela itu yang marak akhir-akhir ini merupakan cerminan melunturnya persaudaraan itu hari ini. Kebenaran dipaksakan lewat berbagai cara dengan mengintimidasi pihak lain. Perbedaan diselesaikan lewat kekerasan bukan musyawarah untuk mencari penyelesaian. Persekusi menjadi jalan keluar untuk menyelesaikan masalah.

 

Di tengah budaya gerombolan inilah menyitir Ronggowarsito, kita mesti tetap “ingat dan waspada” agar tidak ikut terjerumus dalam “zaman edan” ketika orang harus menjadi gila untuk mendapatkan bagian. Kita selalu ingat bahwa kita ini satu bangsa yang didirikan dengan pondasi banyak perbedaan. Partikel-partikel perbedaan itulah yang mengikat satu sama lain untuk menjadi ikatakan persaudaraan. Sebagai saudara sebagaimana tubuh adalah satu kesatuan. Sebagai sesama manusia kita duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.

 

Dalam lanskap budaya global kita mesti waspada bahwa ancaman bisa dari dalam maupun luar. Ide-ide anti toleransi yang menyemai begitu subur merupakan salah satu ancaman kita saat ini. Ancaman semacam itu bisa menghancurkan bangunan kebangsaan yang telah dijaga selama puluhan tahun. Oleh sebab itu, kita mesti bersatu untuk menghadapi situasi semacam itu.

 

Apapun yang tengah terjadi dalam situasi budaya gerombolan, optimisme memang harus terus dijaga. Optimisme merupakan api abadi untuk menjaga agar kita tidak pernah kehilangan harapan. Ia pelita bagi kita untuk menyusuri lorong-lorong gelap peradaban. Pada saatnya, walaupun hanya setahun sekali dan semalam, kembang wijayakusuma akan berbunga. Saat itulah kita akan menemukan keindahan sebagai satu saudara yang hidup di atas Ibu Pertiwi.***