Bersatu, Berjuang Rebut Hak Sejahtera,

Lawan Kapitalisme Imperialisme!

image

Peran Kaum Miskin dan Revolusi Kemerdekaan !

Editor

Peran Kaum Miskin dan Revolusi Kemerdekaan !

Oleh: redaksi spri

 

Ketika Jepang masuk, perjuangan rakyat miskin Indonesia menempuh perjuangan bawah tanah. Dalam tulisan ini akan dibahas perjuangan bawah tanah.

 

P.J.A Indenburg, menghubungi Amir Sjarifuddin begitu Belanda kalah dengan Jepang. Amir sebelumnya dikenal sebagai ketua Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), sebuah oraganisasi rakyat miskin kiri pada tahun 1930-an. Indenburg menanyakan kepada Amir apakah bersedia mengorganisasikan perjuangan bawah tanah melawan Jepang. Amir menyetujuinya.

 

Bagi Amir, sebagaimana prinsip gerakan kiri internasional, yaitu bekerjasama dengan negara kolonial yang menganut demokrasi borjuis untuk menentang fasisme yang tengah bangkit, merupakan pilihan politik paling rasional ketika itu. Inilah pertimbangan Amir untuk menerima tawaran dari Indenburg. Atas persetujuan menerima tawaran Belanda tersebut, Amir menerima uang 25.000 gulden untuk membianyai perjuangan bawah tanah. Amir kemudian merekrut anggota-anggota, yang kemudian diketahui sebagai anggota PKI ilegal. Oleh Amir kemudian dibentuk Gerakan Anti Fasis (Geraf). Gerakan ini banyak diisi oleh kaum miskin perkotaan. Mereka adalah korban-korban kekejaman Jepang di kota-kota besar yang selamat dari keharusan mengikut romusa.

 

Buah dari gerakanbawah tanah ini mulai bermunculan. Di Singaparna terjadi pertempuran antara rakyat melawan tentara Jepang, hal serupa terjadi di Tasikmala. Sedangkan perlawanan yang agak besar terjadi di Blitar, ketika Supriyadi salah satu anggota PETA mengorganisir perlawan terhadap Jepang, perlawan sempat meluas ke Malang Selatan—daerah Karang Kates--Tulungagung dan Kediri.

 

Gerakan Amir ini pada akhirnya bisa dipatahkan oleh Jepang. Ketika Amir ditahan oleh Jepang, muncul gerakan bawah tanah baru yang kemudian dikenal dengan “Menteng 31”. Gerakan ini berpusat di asrama rakyat miskin yang terdapat di Jalan Menteng nomor 31. Rakyat miskin-rakyat miskin yang tergabung dalam Menteng 31 antara lain Chaerul Saleh, Sukarni, A.M. Hanafi, Ismail Widjaja, Aidit, Lukman dan Sjamsuddin Tjan. Mereka mengorganisasikan perjuangan bawah tanah melalui penyebaran selebaran-selebaran politik melawan Jepang.

 

Ketika proklamasi 17 Agustus 1945 dikumandangkan, hasil kerja dari gerakan bawah tanah ini kelihatan. Para rakyat miskin bergerak untuk mempertahankan kemerdekaan dengan melucuti tentara Jepang. Tentara Jepang tak berdaya menghadapi sergapan angkatan muda dan kaum miskin kota Indonesia.

 

Perjuangan bawah tanah ini menunjukkan kalau dalam situasi apapun, para rakyat miskin terus berjuang untuk memerdekakan bangsa Indonesia. Ketika jalur politik legal tidak dimungkinkan karena ketatnya pengawasan dan penangkapan, perjuangan bawah tanah terbukti efektif untuk menghimpun kekuatan perlawanan. Jepang sendiri tentunya tak menyadari kalau di bawah tanah sedang dihimpun kekuatan besar untuk meruntuhkan mereka.

 

Puncak dari gerakan bawah tanah terjadi ketika rapat raksasa di lapangan IKADA Jakarta, beberapa hari setelah Indonesia merdeka. Gerakan ini membuat kaget dan bingung, baik Soekarno maupun kompetai Jepang. Ratusan ribu orang, termasuk kaum miskin kota, berkumpul di lapangan IKADA dengan satu tekad, mempertahankan kemerdekaan dan melawan fasisme Jepang.

 

Setelah Proklamasi

Situasi politik nasional paska proklamasi 17 Agustus 1945 masih masih rentan. Imperialis Belanda tidak mau begitu saja melepaskan kekuasaannya atas Indonesia. Tentara Belanda—NICA—membonceng tentara Sekutu yang dipimpin Inggris. Pada tanggal 24/08/45, antara pemerintah Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda tercapai persetujuan “Civil Affairs Agreement” yang menyebutkan bahwa panglima tentara pendudukan Inggris di Indonesia akan memegang kekuasaan atas nama Pemerintah Belanda. Pelaksa pemerintahan sipil diselenggrakan oleh NICA di bawah tanggung jawab Komandan Inggris, kemudian kekuasaan akan dikembalikan kepada Kerajaan Belanda.

 

Pada tanngal 15 September 1945, Armada sekutu (Inggris-Belanda) di bawah pimpinan komando Laksamana Muda W.R. Petterson mendarat di Tanjung Priok dengan kapal penjelajah Cumberland. Pasukan ini membawa serta satuan RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of Wor and Internees) yang bertugas memulangkan para tawanan perang dan interniran Sekutu dari kamp-kamp Jepang di Pulau Jawa. Sejak pendaratan pertama ini, pasukan-pasukan sekutu terus melakukan pendaratan susulan.

 

Tidak dapat dihindari lagi, pertempuran-pertempuran besar terjadi antara rakyat yang sebagian kaum miskin Indonesia dengan aliansi jahat imperialis Inggris dan Belanda—salah satunya adalah pertempuran 10 Nopember 1945 yang menewaskan Jendral Mallaby.  Dan hampir sepanjang tahun 1945, energi perlawanan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan meluap-luap. Pertempuran-pertempuran hapir tejadi di kota-kota besar di Indonesia dipelopori para pemuda radikal rakyat miskin. Pramoedya Ananta Toer mengisahkan keterlibatan kaum miskin kota dan para pemuda radikal dalam novelnya Keluarga Gerilya.

 

Masa revoloesi fisik ini telah mendorong rakyat miskin-rakyat miskin turun ke gelandang pertempuran. Dalam novelnya Di Tepi Kali Bekasi, Pramoedya dengan baik menggambarkan gelora angkatan muda dan kaum miskin kota melawan Belanda.Mereka membangun basis perlawanan di Cikampek. Tujuan mereka hanya satu: mempertahankan proklamasi. Mereka inilah yang berada di garda depan melawan penjajah yang ingin kembali berkuasa. Lokasi di sekitar Stasiun Senen sampai Stasiun Cikampek menjadi saksi kegigihan kaum miskin kota melawan penjajah. Mereka bahu membahu dengan pemuda revolusioner dengan senjata seadanya, membendung agresi Belanda dan NICA.  

 

Revoloesi fisik ini juga mencerminkan para rakyat miskin mengalami revolusi jiwa. Yaitu membebaskan diri dari jiwa jajahan dengan jiwa merdeka. Inilah yang kemudian mendorong para rakyat miskin untuk mengorbankan apa yang mereka miliki demi meraih kemerdekaan. Daerah-daerah gerilya dipenuhi oleh angkatan moeda, baik laki-laki maupun perempuan. Tanpa ada komando mereka memerankan tugas-tugas masing-masing.***