Bersatu, Berjuang Rebut Hak Sejahtera,

Lawan Kapitalisme Imperialisme!

image

Pandemi, Kemiskinan dan Perlawanan

dpnspri

Pandemi, Kemiskinan dan Perlawanan

 

Umat manusia sudah sering menghadapi pandemi. Dengan kemampuan akalnya, manusia mampu menghadapi masa-masa sulit itu. Korban tentu berjatuhan, namun dengan penemuan vaksin pandemi akhirnya bisa dikendalikan. Sebagaimana diungkapkan oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya Sapiens, manusia sebetulnya merupakan spesies yang lemah, namun karena kemampuan untuk berpikir, manusia bisa bertahan sampai saat ini. Dan, kali ini umat manusia kembali diuji oleh pandemi yang disebabkan oleh virus Covid 19.

 

Dalam wawancara dengan DW, Harari mengatakan bahwa ancaman terbesar bukan virus itu sendiri, melainkan: "Masalah besarnya adalah nurani kita, kebencian kita, keserakahan dan ketidaktahuan kita sendiri. Saya khawatir orang-orang bereaksi terhadap krisis ini bukan dengan solidaritas global, melainkan dengan kebencian, saling menyalahkan negara lain, menyalahkan etnis dan agama minoritas." Ini penting kita garis bawahi, virus memang membawa dampak-dampak yang  mengerikan,  namun  lebih  daripada  itu,  virus  ini  juga  akan  membuka  karakter  manusia, terutama keserakahan.

 

Sistem ekonomi-politik kita saat ini memang penuh dengan keserakahan. Kapitalisme membuka pintu selebar-lebarnya bagi lahirnya keserakahan. Yaitu, keserakahan para pemilik modal. Mereka mengeksploitasi apa saja demi menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya, sebagaimana lagu Iwan Fals, Bento:

 

"Namaku Bento rumah real estate

Mobilku banyak harta berlimpah

Orang memanggilku bos eksekutif

Tokoh papan atas, atas segalanya

(Asyik!)

 

Wajahku ganteng banyak simpanan

Sekali lirik oke sajalah

Bisnisku menjagal, jagal apa saja

Yang penting aku senang, aku menang

Persetan orang susah karena aku

Yang penting asyik Sekali lagi (Asyik!)."

 

Mobil, rumah real estate hingga perempuan simpanan didapatkan dengan "menjagal, jagal apa saja." Dengan kata lain, segala cara halal untuk dilakukan. Inilah karakter kapitalisme. Dalam situasi apapun, termasuk dalam situasi pandemi, mereka tetap menggunakan segala cara untuk tetap bisa  melipatgandakan  pundi-pundi  harta  mereka.  Oleh  karena  itu,  pandemi  semakin  membuka kedok mereka.

 

Ada kisah tentang negeri Oran dalam novel Albert Camus, Sampar. Para kapitalis justru mencari siasat untuk mengeruk keuntungan di tengah situasi pandemi. Di tengah kekalutan masyarakat, mereka mencari cara agar situasi tersebut bisa membuahkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Inilah mengapa kapitalisme merupakan sistem yang tidak didasari oleh kemanusian, namun sistem yang diciptakan untuk menuruti nurani keserakahan manusia.

 

Keserakahan tidak muncul begitu saja. Ia muncul disebabkan oleh kehendak untuk berkuasa sebagaimana dikatakan oleh filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche. Sejak manusia mengalami domestifikasi setelah era berburu dan meramu, manusia mengenal sistem bercocok tanam. Sejak era  pertanian ini, manusia mulai bisa mengakumulasi modal yang kemudian melahirkan sistem perbudakan. Kehendak berkuasa terus berlanjut dengan sistem feodalisme dan mencapai pucaknya pada sistem kapitalisme yang menggurita saat ini.

 

Si Miskin Dalam Situasi Pandemi

Yang mengalami dampak paling besar dari keserakahan di masa pandemi ini adalah kaum miskin. Dalam piramida kapitalisme, posisi kaum miskin berada dalam tingkat paling bawah. Mereka dinjak oleh kelas-kelas sosial yang ada di atasnya. Mereka inilah para sudra yang tidak menguasai alat produksi apapun.

 

Situasi saat ini memang tidak mudah. Kaum miskin harus tetap bertahan hidup dalam keadaan yang sulit. Selain kesehatan, pandemi juga menggerogoti ekonomi kaum miskin. Pekerjaan lepas satu persatu seperti daun di musim kering. Seperti musafir di tengah gurun pasir, yang ditemukan kaum miskin bukan air melainkan hanya fatamorgana. Ya, fatamorgana yang diberikan oleh penguasa. Selama masa pandemi, penguasa memberikan fatamorgana berupa janji-janji berbagai  bentuk  bantuan.  Namun,  semuanya  menguap  begitu  saja.  Sebagaimana  Tong  Kosong dalam lagu Slank:

 

“Tong kosong nyaring bunyinya

Klentang-klentong kosong banyak bicara

Oceh sana-sini nggak ada isinya

Otak udang ngomongnya sembarang”

 

Sebagaimana tong kosong, kata-kata para politisi disaat pandemi hanya nyaring bunyinya. Satu  sama  lain  saling  sahut  menyahut  tak  ada  isinya.  Inilah  mengapa  situasi  tidak  kunjung membaik. Para pemangku kebijakan hanya "klentang-klentong kosong banyak bicara." Di luar itu, kaum miskin tetap dibiarkan hidup terpuruk. Keterpurukan ini malah dijadikan ajang saling jegal antar politisi. Mereka saut meyaut seperti anjing yang menggonggong di kala malam. Bukannya memecahkan masalah, namun justru menambah kegaduhan. Inilah akibat ketika para politisi "otak udang ngomong sembarangan", tak ada isinya selaian kotoran.

 

Ada kisah dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Penguasa Tumapel, Tunggal Ametung, hidup serakah. Sementara rakyat dibiarkan hidup dalam kelaparan. Kaum miskin sudah untung bisa makan sekali dalam sehari, sementara Tunggul Ametung hidup bergelimangan harta di istananya. Situasi ini bukannya tidak bisa diubah. Munculah Ken Arok, keturunan sudra yang mampu mempimpin perubahan. Ia kumpulkan kaum miskin agar bisa bersatu. Kekuatan inilah yang kemudian digunakan untuk menggulingkan kekuasaan Tunggul Ametung yang serakah. Artinya, keadaan sekarangpun bisa diubah. Syaratnya, kaum miskin mau bersatu dalam satu barisan yang terorganisir. Serupa gerombolan lebah, dengan persatuan mereka berhasil membuat rumah. Pun, dengan bersatu kaum miskin akan bisa mengubah keadaan. Ya, dari keadaan tertindas menjadi terbebaskan. Dari sengsara menjadi sejahtera.

 

Dalam situasi sulit saat pandemi ini, kaum miskin tidak bisa menunggu, tetapi harus aktif menuntut. Bantuan sosial adalah hak orang miskin. Ketika bantuan tersebut tidak kunjung datang, maka harus aktif menuntutnya. Inilah perlunya persatuan dan perlawanan yang terorganisir. Perubahan tidak akan turun dari langit, namun harus diperjuangkan. Ayo, Bung. Kita melawan.***Redaktur SPRI