Bersatu, Berjuang Rebut Hak Sejahtera,

Lawan Kapitalisme Imperialisme!

image

Merdeka dari Penindasan; Bangun Organisasi Kerakyatan!

dpnspri

Merdeka Dari Penindasan; Bangun Organisasi Kerakyatan !

 

oleh: dpnspri

 

Mau merdeka dari penindasan? Ya berusaha. Bagaimana caranya? Bagini caranya: Semut dikenal dengan hewan yang hidup komunal. Mereka selalu berbaris ketika pergi mencari makanan. Hasil makanan yang didapatkannya kemudian dibawa secara bersam-sama. Hidup komunal juga merupakan ciri awal kehidupan manusia. Pada masa awal perkembagan evolusi, manusia hidup secara berkelompok, entah tinggal di dalam gua maupun di atas pohon maupun membangun rumah dari kulit kayu atau alang-alang. Ini menandakan, sebagaimana semut, manusia merupakan mahkluk sosial. Artinya, ia tidak bisa hidup sendiri. Maka kemudian mereka membentuk organisasi sosial: kesukuan, kerajaan maupun negara. Dengan demikian, organisasi merupakan kebutuhan hidup bagi manusia.

 

Ketika bangsa kita berjuang untuk merdeka, banyak sekali organisasi yang dibentuk. Ada Budi Utomo, Serikat Dagang Islam, Serikat Islam, ISDV, Perhimpunan Indonesia hingga kemudian muncul Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes dan lain sebagainya. Mereka berkumpul, membentuk organisasi dengan cita-cita Indonesia merdeka. Organisasi-organisasi inilah yang membuat perlawanan terhadap penjajah menjadi terorganisir hingga tercetuslah Sumpah Pemuda dengan teks yang berbunyi:

 

"Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air

Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

 

Tanpa adanya organisasi tentu Sumpah Pemuda tidak akan terwujud. Lewat organisasilah para pemuda dan pemudi dari berbagai daerah bisa berkumpul untuk membuat sumpah yang menyatakan satu tanah air, satu bangsa dan memilih bahasa Indonesia sebagai Bahasa persatuan. Maka sebuah organisasi merupakan syarat pokok untuk perjuangan.

 

Ada kisah dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Ketika melihat penindasan di sekitarnya, Arok melakukan perlawanan kecil-kecilan. Ia mencuri upeti kerajaan untuk kemudian dibagikan pada rakyat miskin. Usahanya ini tentu tidak dilakukan sendirian. Ia mengajak teman-temannya untuk melakukan perlawanan tersebut. Upaya untuk mengumpulkan orang lain sebagaimana dilakukan Arok merupakan upaya untuk membentuk sebuah organisasi perlawanan. Organisasi yang awalnya kecil itu kemudian bisa berkembang menjadi organisasi yang besar, hingga bisa meruntuhkan kekuasaan Tunggul Ametung.

 

Dari kisah Arok tersebut kita bisa belajar membangun organisasi tidak langsung besar. Ia dibentuk dari proses yang panjang sehingga bisa menjadi besar. Bagaimana caranya? Lewat pengorganisiran. Satu orang mengajak orang lain, begitulah terus menerus dilakukan hingga kemudian terkumpul banyak orang. Oleh sebab itu, pengorganisiran merupakan hal yang penting agar organisasi bisa berkembang. Ada langkah-langkah agar pengorganisiran bisa berhasil.

 

Pertama, makan, tidur dan hidup bersama rakyat. Seorang organiser bukan pencatat

meteren listrik yang datang dari rumah ke rumah hanya sebulan sekali. Seorang organiser harus makan, tidur dan hidup di tengah-tengah rakyat. Artinya, ia menetap dan hidup bersama rakyat agar bisa mengetahui dengan tepat persoalan di basisnya. Dengan begitu ia bisa ikut memecahkan persoalan tersebut dengan tepat.

 

Kedua, turba atau turun ke bawah. Hal ini masih berkaitan dengan yang pertama. Ketika seorang organiser hanya berada di sekretariat, ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Oleh sebab itu, ia harus rajin sedekat mungkin dengan rakyat. Semakin banyak berinteraksi dengan rakyat, maka akan bisa mendapatkan berbagai masukan, persoalan maupun pemecahan masalah.

 

Tanpa kedua hal tersebut, sebuah organisasi akan menjadi macan ompong: punya nama sangar sebagaimana macan, tapi giginya ompong. Jangankan penguasa, anak-anak pun tak akan takut.

 

Seribu Kawan Tidak Cukup

Setelah organisasi terbentuk apa yang harus dilakukan? Pertama-tama adalah mencari

sekutu. Ini penting karena tanpa sekutu maka kekuatan sebuah organisasi tidak akan maksimal. Sekutu juga penting untuk menarik garis mana kawan mana lawan. Tanpa tahu kawan dan lawan maka setiap serangan yang dilakukan bisa ngawur sehingga tidak tepat sasaran. Ibarat menembak, kita harus tahu sasaran apa yang akan ditembak. Lantas siapa sekutu dalam perjuangan melawan penindasan?

 

Kata-kata Che Guevara bisa dijadikan patokkan: "Jika kau bergetar dengan geram setiap melihat ketidakadilan, maka kau adalah kawanku." Ernesto Guevara Lynch de La Serna merupakan seorang revolusioner, dokter, pengarang, pemimpin gerilya, diplomat dan pakar teori militer Marxis asal Argentina. Che meninggal dalam perjuangan di Bolivia pada 9 Oktober 1967 pada umur 39 tahun. Ia bersama Fidel Castro berjuang melawan kekuasaan diktator yang berkuasa di Cuba. Perjuangan Che dan Castro berhasil meruntuhkan kekuasaan diktator dan mendirikan negara sosialis di Cuba dan masih bertahan hingga hari ini. Ini contoh perjuangan yang berhasil.

 

Bila merujuk kata-kata Che Guevara maka kita tidak akan kesulitan menemukan kawan perjuangan. Dalam situasi saat ini penindasan ada di mana-mana, di berbagai sektor kehidupan. Di kota-kota ada penindasan terhadap kaum miskin kota. Di desa-desa ada penindasan terhadap petani. Di pabrik-pabrik ada penindasan terhadap buruh. Artinya, penindasan ada di sembarang tempat. Dengan situasi seperti ini maka akan dengan mudah menemukan kawan untuk berjuang bersama-sama.

 

Ada ungkapan "seribu kawan tidak cukup, satu musuh sudah terlalu banyak." Maknanya, tugas organisasi kerakyatan adalah mencari kawan sebanyak-banyaknya. Ego sektoral harus dienyahkan, membangun persatuan harus dikuatkan agar kekuatan bisa dilipatgandakan. Satu lidi tidak berguna, sejumput lidi akan bermanfaat untuk menyapu. Perjuangan untuk membebaskan diri dari ketertindasan tentu tidak bisa disangga oleh satu sektor saja: buruh saja, petani saja, kaum miskin kota saja, mahasiswa saja. Tidak akan bisa. Semuanya perlu bersatu.

 

Musuh yang dihadapi adalah oligarki, gurita raksasa yang memiliki tentakel di mana-mana. Mereka menguasai kekuasaan eksekutif, yudikatif maupun legislatif. Begitu kuat dengan modal yang besar. Oleh karena itu, tanpa persatuan maka organisasi kerakyatan tidak akan mampu melawan kekuatan oligarki dan menjebol pertahanan mereka.

 

Benteng oligarki dilindungi oleh kekuatan ekonomi dan politik yang perkasa. Namun bukan berarti tidak dapat dirobohkan. Setetes air yang terus menerus menetes pun akan bisa melubangi batu hitam. Maka oligarki pun akan bisa dirobohkan apabila perlawanan dilakukan secara terus menerus dan bersama-sama.

 

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Itulah kata-kata bijak yang bisa digunakan sebagai pendorong membangun persatuan dalam perjuangan melawan penindasan. Ayo, Bung! Bangun organisasi kerakyatan. Lawan penindasan!***