Bersatu, Berjuang Rebut Hak Sejahtera,

Lawan Kapitalisme Imperialisme!

image

Meneruskan Cita-cita Kemerdekaan!

dpnspri

Meneruskan Cita-cita Kemerdekaan !

Oleh: DPN SPRI

 

Apa yang harus diteruskan dari cita-cita kemerdekaan? Pertama-tama perlu kita periksa Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, makapenjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Pertama-tama kemerdekaan adalah hak. Jadi siapa saja mempunyai hak yang sama untuk hidup merdeka, termasuk rakyat miskin. Makna merdeka tentu tidak hanya lepas dari cengkraman penjajah, namun juga merdeka dari kemiskinan dan kebodohan. Cita-cita inilah yang harus terus-menerus diperjuangkan oleh rakyat miskin agar mendapatkan haknya sebagai warga yang merdeka.

 

Apa saja hak rakyat miskin? Mari kita buka lagi Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi: "Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa...." Itulah tanggung jawab negara kepada warganya: memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Apakah hal ini sudah terwujud? Tentu saja belum.

 

Rakyat miskin belum mendapatkan kesejahteraan umum yang meliputi sandang, pangan, papan, kesehatan dan hiburan. Untuk mendapatkan sandang, papan dan pangan, rakyat miskin harus tertatih-tatih karena sistem ekonomi dan politik tidak memihak kepada mereka. Sandang (pakaian) mereka seadanya saja. Mungkin pakaian terbaik hanya dipakai untuk kondangan atau lebaran. Papan (rumah) rakyat miskin kita bisa kita lihat sendiri kondisinya. Mereka harus hidup seperti di kandang ayam dengan kondisi sanitasi dan lingkungan yang memprihatinkan. Rhoma Irama mengambarkan dengan baik kondisi papan rakyat miskin:

 

"Langit sebagai atap rumahku

Dan bumi sebagai lantainya

Hidupku menyusuri jalan

Sisa orang yang aku makan

 

Jembatan menjadi tempat perlindungan

Dari terik matahari dan hujan

Begitulah nasib yang aku alami

Entah sampai kapan hidup begini."

 

Langit sebagai atap, bumi sebagai lantai dan jembatan sebagai tempat berlindung. Tempat tinggal seperti ini bisa kita dapatkan di perkampungan-perkampungan rakyat miskin. Dengan kondisi papan yang memprihatinkan ini rakyat miskin masih harus menghadapi penggusuran yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

 

Pangan (makanan) rakyat miskin juga seadanya. Kadang-kadang untuk makan harus seperti lagu Ida Laila:

 

"Pabila kuingat dirimu

Disaat bersama

Hidup sengsara

Makan sepiring kita berdua

Tidurpun setikar bersama."

 

Makan saja hanya bisa sepiring berdua karena makanan yang bisa dimakan terbatas. Tidak ada uang untuk membeli makanan yang mencukupi. Dengan kondisi seperti itu tentu kondisi kesehatan warga miskin menjadi sangat rentan terhadap penyakit. Sementara fasilitas kesehatan untuk warga miskin masih sangat terbatas dan mahal. Agar mendapatkan kesehatan gratis mereka tidak mampu membayar BPJS. Apalagi dalam situasi pandemi seperti saat ini, fasilitas kesehatan menjadi kebutuhan yang amat penting.

 

Lantas bagaimana akses rakyat miskin untuk mendapatkan hiburan? Semakin tidak terjangkau. Hari-hari mereka dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Setelah tenaga habis terkuras, hiburan paling terjangkau adalah melihat sinetron di televisi sembari rebahan hingga terlelap dan bangun keesokan harinya. Hiburan lainnya kalau ada pentas dangdut di kampung. Rakyat miskin bisa ikut berjoget untuk sejenak melupakan beban hidup. Atau kalau tidak ada hiburan, mereka main kartu atau catur di pos ronda. Lebih dari itu mereka tidak mampu.

 

 

Bagaimana dengan tanggungjawab negara "mencerdaskan kehidupan bangsa?" Salah satu sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah lewat pendidikan. Para pendiri bangsa sudah menyadari bahwa pendidikan bangsa merupakan faktor penting untuk kemajuan sebuah negara. Tanpa pendidikan, sebuah bangsa akan berjalan di lorong-lorong kegelapan tanpa ada obor penerang. Namun kini pendidikan menjadi ladang bisnis. Guna mendapatkan fasilitas pendidikan yang baik harus mengeluarkan uang yang banyak. Tentu hanya orang-orang yang berpunya yang bisa menikmati fasilitas pendidikan yang baik. Sementara rakyat miskin harus puas dengan fasilitas kesehatan yang seadanya, dengan kondisi gedung sekolahan yang mau ambruk dan fasilitas penunjang pendidikan yang mengenaskan.

 

Selain pendidikan, sarana lain untuk "mencerdaskan kehidupan bangsa" adalah bacaan. Kondisi ini sangat memprihatikan. Walaupun sudah merdeka selama 76 tahun, minat baca masyarakat kita masih rendah. Ini terjadi bukan karena warga masyarakat tidak mau membaca, melainkan kelangkaan bahan bacaan. Perpustakan hanya tersedia di pusat-pusat kota, tidak sampai di kampung-kampung. Sementara harga buku tidak akan terjangkau oleh warga miskin. Jangankan untuk membeli buku, guna mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti membeli beras saja sudah kelimpungan. Tanpa ada taman bacaan masyarakat di kampung-kampung, bahan bacaan hanya menjadi mimpi bagi warga miskin. Sementara ada ungkapan bahwa buku ada jendela dunia. Lantas bagaimana rakyat miskin bisa melihat dunia kalau mereka tidak mendapatkan akses terhadap bahan bacaan? Inilah ironi yang terjadi.

 

Dua cita-cita kemerdekaan, "kesejahteraan umum" dan "mencerdaskan kehidupan bangsa" belum terwujud. Inilah tugas warga miskin hari ini: memperjuangkan terwujudnya cita-cita itu. Tanpa perjuangan, semua itu hanya sebatas cita-cita. Perubahan tidak akan terjadi tanpa keringat dan pengorbanan. Maka sikap berpangkutangan adalah tindakan yang tidak akan menghasilkan apaapa.

 

Cita-cita para pendiri bangsa harus terus menerus diperjuangan, termasuk oleh rakyat miskin. Pada kenyataannya walaupun kesejahteraan umum adalah hak, namun hak tersebut tidak diberikan oleh negara. Juga upaya untuk mencerdaskan bangsa. Pada kenyataannya negara lebih berpihak kepada orang-orang kaya daripada kepada rakyat miskin. Oleh karena itu, hak itu harus direbut. Merebut hak itulah usaha untuk meneruskan cita-cita kemerdekaan. Tanpa itu, rakyat miskin akan tetap menjadi gelandangan di negeri sendiri. Pekikkan semangat perlawanan. Kepalkan tinju ke udara. Singsingkan lengat bajumu. Ayo, Bung! Rebut kembali hak-hakmu. Wujudkan cita-cita para pendiri bangsa.***