Bersatu, Berjuang Rebut Hak Sejahtera,

Lawan Kapitalisme Imperialisme!

image

Jago dari Condet;

dpnspri

Jago dari Condet; Kisah Perlawanan Kaum Tani Melawan Tuan Tanah

Oleh: dpnspri

 

Dalam bulan kaum tani ini adalah tepat untuk mengenang sosok Entong Gendut. Ini kisah dari Condet. Kawasan yang terletak di Jakarta Timur ini pernah menggoreskan kisah perlawanan kaum tani melawan tuan tanah. Ini adalah Condet zaman kolonial, bukan Condet hari ini. Pada zaman Kolonial, di Condet masih terdapat tanah-tanah luas yang dikuasai oleh tuan tanah Belanda. Tanah- tanah ini sebagain besar merupakan tanah rampasan milik rakyat. Akibatnya, kaum tani di sekitar Condet tidak mempunyai tanah lagi.

 

Pada masa kolonial memang banyak tanah petani yang dirampas. Ketika pemodal dari Belanda datang pada era Tanam Paksa, mereka mulai merampas tanah kaum tani. Tanam Paksa merupakan usaha Belanda untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya bagi mereka. Para petani dipaksa menanam komoditas yang dibutuhkan Belanda seperti kapas dan kopi. Hasil panen kemudian harus diserahkan kepada Belanda. Sementara yang tidak memiliki tanah harus bekerja di tanah-tanah milik tuan tanah. Situasi ini menimbulkan penderitaan luar biasa pada rakyat pribumi. WS Rendra menggambarkan situasi itu dalam puisisinya

 

"Rakyat ditindas oleh bupadi mereka sendiri.

Petani hanya bisa berkeringat,

tidak bisa tertawa,

dan hak pribadi diperkosa.

 

Demi kepentingan penjajahan,

Kerajaan Belanda bersekutu dengan

kejahatan ini.

Sia-sia saya mencegahnya.

Kalah dan tidak berdaya."

 

Seperti yang disampaikan Rendra, Belanda bersekutu dengan penguasa lokal untuk menindas kaum tani. Pengusa-penguasa lokal inilah yang berada di garda depan merampas tanah-tanah petani demi kepentingan penjajah Belanda. Kekerasan merupakan jalan untuk melakukan perampasan. Jeritan rakyat tidak didengarkan. Rakyat semakin tertumpuk dalam kemiskinan. Sementara pembesar- pembesar pribumi dan penjajah Belanda semakin kaya. Kongkalikong penguasa lokal dengan Belanda  inilah  yang  menyebabkan  penjajahan  bisa  berlangsung  lama.  Tanpa  merasa  bersalah mereka terus menindas rakyat pribumi sebagimana disampaikan Rendra dalam sajaknya:

 

"Saya telah menyaksikan

bagaimana keadilan telah dikalahkan

oleh para penguasa

dengan gaya yang anggun

dan sikap yang gagah.

Tanpa ada ungkapan kekejaman

di wajah mereka.

Dengan bahasa yang rapi

mereka keluarkan keputusan-keputusan

yang tidak adil terhadap rakyat.

 

Serta dengan budi bahasa yang halus

mereka saling membagi keuntungan

yang mereka dapat dari rakyat

yang kehilangan tanah dan ternaknya.

Ya, semuanya dilakukan

sebagai suatu kewajaran."

 

Benar yang dikatakan Rendra, mereka menindas "sebagai suatu kewajaran". Situasi seperti inilah yang dilihat Entong Gendut di kawasan Condet. Maka ia kemudian mengorganisir perlawanan. Dalam buku Protest Movements in Rural Java (1973), Sartono dengan bagus menggambarkan keserakahan para tuan tanah yang kala itu didominasi orang-orang Eropa.

 

Keserakanan yang dilakukan tuan tanah dilakukan secara terstruktur lewat lewat peraturan Gubernemen tahun 1912. Isi peraturan itu adalah memberikan wewenang kepada tuan tanah untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang terhadap kaum tani. Aturan itu memberi ruang bagi tuan tanah untuk menindak petani yang gagal bayar pajak melalui pengadilan. Karena rakyat miskin maka mereka tidak bisa membayar tanah. Akibatnya, mereka diseret ke pengadilan.

 

Tak tanggung-tanggung, pada 1913 saja pengadilan menangani dua ribu perkara kegagalan petani dalam membayar pajak kepada empunya tanah. Selanjutnya, ada lima ratus perkara di tahun 1914 dan tiga ratus perkara di tahun 1915. Seperti yang kita ketahui, pengadilan akan memenangkan tuan tanah. Para petani dibuat bangkrut oleh keputusan pengadilan yang tidak adil. Dan tuan tanah pun bersuaka  ria  terhadap  keputusan  pengadilan  dengan  menaikkan  pajak  tanah.  Dalam  situasi  ini Entong Gendut memimpin perlawanan sebagaimana ditulisan Goenawan Mohamad:

 

“Mereka berkumpul di Kebon Jaimin di sebelah utara, ketika para yang berwajib datang untuk melaksanakan hukuman. Maksud kerumunan itu ialah buat mencegah nasib buruk yang sudah dijatuhkan ke kepala Taba. Dan Entong Gendut hadir di sana. Tapi, rakyat gagal. Walaupun telah berteriak-teriak, maki-maki, dan berdoa.”

 

Protes  di  atas  terjadi  ketika Taba,  petani  dari  Batu Ampar  (Condet)  diadili  karena  tidak  bisa membayar pajak. Pada 14 Mei 1914, keputusan pengadilan memerintahkan Taba untuk membayar 7,20 gulden. Taba hanya diberikan waktu hingga tanggal 15 Maret 1916 untuk membayar uang sebanyak  itu.  Apabila  tak  mampu  bayar,  aparat  kolonial  akan  menyita  harta  benda  Taba. Menghadapi keputusan pengadilan yang sewenang-wenang, penduduk sekitar Taba marah. Mereka melakukan perlawanan dengan dipelopori oleh Entong Gendut. Perlawanan tersebut memang gagal, namun Entong Gendut dan kawan-kawannya tidak menyerah.

 

Iim Imanudin dalam jurnal Perlawanan Petani di Tanah Partikelir Tanjoeng Oost Batavia Tahun 1916 (2015), menuliskan bahwa penduduk Batu Ampar mulai mengorgananisasikan perlawanan dengan bergabung dengan perkumpulan bela diri. Kelompok bela diri ini menggembleng kaum tani menjadi jawara untuk melawan kesewenang-wenangan Belanda. Iim Imanudin menuliskan:

 

“Laporan yang sampai pada pemerintah menyebutkan bahwa Entong Gendut, Maliki, dan Modin yang berasal dari Batu Ampar memimpin perkumpulan tersebut. Selanjutnya, ditetapkan delapan wazir  dan  dua  prajurit.  Anggota  perkumpulan  terus  bertambah  hingga  mencapai  sekitar  400 anggota. Bahkan sudah direncanakan merekrut pengikut hingga seribu orang.”

 

Inilah pelajaran berharga yang bisa diambil dari perlawanan Entong Gendut dan kaum tani. Dengan sadar mereka mengorganisasikan diri agar kekuatan berlipat ganda. Mereka sadar perjuangan tidak bisa sendiri. Meskipun mereka belum membentuk organisasi formal, namun lewat perkumpulan bela diri mereka mencoba menyusun kekuatan bersama. Sebuah kekuatan yang digunakan untuk memukul balik kesewenang-wenangan aparat lokal dan kolonial yang telah menindasa kaum tani.

 

Perlawanan Entong Gendut dan kaum tani Condet memang pada akhirnya bisa dikalahkan. Akan tetapi, dalam perjuangan bukan kalah dan menang yang terpenting, namun kesadaran untuk terus- menerus melawan setiap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Entong Gendut memang telah tiada, namun ia tetap dikenang oleh rakyat sebagaimana pantun di bawah ini:

 

"Ular kadut mati di kobak

Burung betet makanin laron

Entong Gendut mati ditembak

Orang Condet pada buron."