Bersatu, Berjuang Rebut Hak Sejahtera,

Lawan Kapitalisme Imperialisme!

image

Gara-gara Jengkol

dpnspri

Gara-gara Jengkol

Oleh: EA  Pamungkas

 

Aku sangat bersyukur mendapat suami sepertinya. Kesukaannya akan jengkol membuatku tidak perlu repot-repot membersihkan ikan, memotong ayam atau menunggu rebusan daging sampai empuk. Aku cukup memasak nasi, membuat telur ceplok atau mie instant untukku – karena aku tidak begitu suka jengkol – dan  memasak jengkol untuk suamiku. Aku juga tidak perlu mengeluarkan uang belanja banyak-banyak karena harga jengkol cukup murah. Sisanya, aku gunakan untuk membeli dan mencicil barang apa saja yang kumau, ikut arisan ini-itu, melakukan perawatan tubuh di salon – seperti yang sering dilakukan ibu-ibu bos di kantor suamiku. Pokoknya, hidupku sangat bahagia saat itu.

 

Namun, kebahagiaan itu ternyata hanya berlangsung 3 tahun. Tiba-tiba jengkol lenyap dari pasaran. Kalau semen atau minyak tanah yang lenyap, sudah sering aku baca di koran. Tapi kalau jengkol, mungkin baru kali ini terjadi di dunia. Benar-benar aneh. Aku mulai panik.

 

Awalnya, jengkol lenyap dari keranjang tukang sayur keliling langgananku, dan dari semua keranjang tukang sayur keliling yang ada di sekitar rumahku. Kata mereka, jatah pembelian jengkol dibatasi dan harganya dinaikkan 100%.

 

Sebenarnya, mahalnya harga jengkol bukan masalah bagiku. Penghasilan suamiku yang cukup banyak, ditambah hasil dari pekerjaan sambilan sana-sininya dan bunga deposito dari uang warisannya di bank, membuatku masih bisa bernafas lega. Sampai akhirnya, jengkol benar-benar lenyap dari kota kami. Aku pun panik.

 

Sejak lenyapnya jengkol itu, setiap Sabtu pagi, suamiku selalu berangkat membeli jengkol di kota sebelah. Keesokan sorenya, ia baru pulang ke rumah dengan membawa sekarung jengkol untuk persediaan seminggu – ini kemudian menjadi rutinitas suamiku di akhir pekan. Tapi untung saja, keadaan itu hanya berlangsung 3 bulan dan jengkol pun kembali muncul di keranjang tukang sayur keliling langgananku. Selain tersedia dalam jumlah yang sangat banyak, harganya pun jadi sangat murah – saking murahnya, jengkol hampir dijadikan makanan pokok pengganti nasi oleh warga kotaku.

***

 

MESKI masalah lenyapnya jengkol telah berakhir, tapi kemudian timbul masalah baru. Ternyata, lenyapnya jengkol berbuntut panjang.

 

Sebulan setelah perceraian baru kuketahui penyebab lenyapnya jengkol di kotaku. Waktu itu, sebagai Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten, mantan suamiku melarang peredaran jengkol selama 2 bulan. Ia memanfaatkan momen lenyapnya jengkol dari pasaran – yang sebenarnya hanya terjadi sebulan – karena putusnya jembatan penghubung antar kotaku dengan kota penghasil jengkol, di sebelah. Dengan memperpanjang waktu lenyapnya jengkol, ia pun punya alasan untuk pergi ke luar kota dan bertemu dengan perempuan yang dikenalnya di sana. Itulah mengapa mantan suamiku begitu rajin membeli jengkol di tempat yang begitu jauh, setiap akhir pekan. Dulu, kukira ia melakukannya dengan ikhlas. Ternyata aku ditipunya.

 

Terbongkarnya skandal jengkolgate ini, juga membuka borok-boroknya yang lain. Selain dikenai tuduhan menghamili anak perempuan di bawah umur,  mantan suamiku juga terjerat kasus korupsi dan kolusi. Ia melakukan korupsi ratusan juta demi membangun rumah perempuan simpanannya. Sedangkan kolusi dilakukannya untuk menyogok para pengusaha jengkol sebanyak puluhan juta rupiah agar tidak memasukkan jengkol ke kota kami selama 2 bulan. Akibat semua ulahnya itu, mantan suamiku harus menjalani hukuman penjara selama 5 tahun dan dipecat dari pegawai negeri. Semua terjadi gara-gara jengkol.***