Bersatu, Berjuang Rebut Hak Sejahtera,

Lawan Kapitalisme Imperialisme!

image

Demokrasi & Kesejahteraan Rakyat Miskin

dpnspri

Demokrasi & Kesejahteraan Rakyat Miskin

 

Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, "demos" (rakyat) dan "kratos" (kekuasaan). Sederhananya, demokrasi bermakna kekuasaan yang berada di tangan rakyat. Demokrasi muncul untuk menggantikan sistem para raja dan tuan tanah/feodal. Walaupun kata demokrasi muncul di Yunani pada abad ke-5 SM, namun sistem ini baru terwujud secara luas setelah terjadi Revolusi Prancis dan Revolusi Industri di Inggris pada abad ke-18 M. Kekuatan politik di Prancis berhasil menggulingkan kekuasaan feodal dan menggantinya dengan sistem demokrasi.

 

Dengan slogan persamaan, kebebasan dan persaudaraan, mereka meninggalkan era feodal dengan kekuasaan di tangan  raja  menjadi  sistem  demokrasi  dengan  kekuasaan  di  tangan  rakyat.  Sementara  itu, Revolusi Industri di Inggris melahirkan sistem ekonomi kaptalis yang melahirkan para pemilik modal. Bisa dikatakan bahwa demokrasi merupakan produk masyarakat kapitalis yang berhasil meruntuhkan corak produksi feodalisme yang telah mengakar selama ratusan tahun.

 

Demokrasi merupakan pencapaian terbesar dalam era modern. Seperti yang kita ketahui, secara ideal demokrasi merupakan sistem dari, oleh dan untuk rakyat. Dalam hal ini rakyatlah yang memegang peranan penting dalam menentukan kebijakan dan keputusan-keputusan politik. Dengan begitu diharapkan kepentingan rakyat bisa terwujud dengan baik. Nilai-nilai inilah yang penting dalam demokrasi. Sebuah nilai yang melihat manusia setara dalam segala aspek kehidupan. Ketika manusia tidak lagi dibedakan oleh garis darah lagi.

 

Demokrasi yang kita kenal selama ini adalah demokrasi perwakilan. Artinya, rakyat memilih wakil- wakilnya untuk duduk di lembaga legislatif (DPR/DPD) maupun di lembaga eksekutif (Presiden). Mekanisme  dijalankan  lewat  pemilihan  umum  yang  dilakukan  dalam  suatu  periode  tertentu. Setelah terpilih, wakil-wakil inilah yang menjadi lidah penyambung suara rakyat. Diharapkan para wakil-wakil rakyat inilah yang memperjuangkan kepentingan pemilihnya. Suara rakyat yang merupakan suara Tuhan telah dilimpahkan kepada mereka yang dipilih melalui mekanisme demokrasi. Maka anggota legislatif maupun Presiden sebetulnya adalah pesuruh untuk mewakili kepentingan rakyat. Oleh sebab itu, mereka harus berkerja sesuai kepentingan rakyat.

 

Namun kenyataan tak selalu indah. Demokrasi telah diserobot oleh kepentingan para pemilik modal demi kepentingan mereka. Kepentingan ekonomi dan politik disetir demi kepentingan untuk menumpuk akumulasi modal. Inilah mengapa demokrasi tidak berpihak lagi pada kepentingan rakyat melainkan pada kepentingan para pemilik modal. Tak mengherankan kalau produk UU maupun produk politik lebih berpihak pada kepentingan pemilik modal. Akibatnya, rakyat hanya diambil suaranya demi untuk mengesahkan kepentingan kelas penguasa. Inilah mengapa demokrasi menjadi sistem yang pincang.

 

Demokrasi yang ada saat ini hanya demokrasi semu. Demokrasi digunakan untuk menipu rakyat demi kepentingan segelintir orang yang berpunya. Demokrasi hanya digunakan sebagai topeng untuk mengeruk keuntungan mereka yang memegang kendali ekonomi dan politik. Demokrasi telah jauh dari tujuan awalnya. Manipulasi dilakukan sedemikian rupa agar rakyat masih mau mendukung sistem demokrasi semu ini.

 

Persoalan inilah yang harus diketahaui oleh rakyat miskin. Suara mereka selama ini hanya digunakan untuk kepentingan elit-elit politik dan ekonomi. Setelah suara rakyat miskin diambil, mereka hanya ditempatkan sebagai paria yang menjadi obyek eksploitasi. Sebagaimana lirik sebuah lagu Rhoma Irama yang berjudul Indonesia:

 

Seluruh harta kekayaan negara Hanyalah untuk kemakmuran rakyatnya Namun hatiku selalu bertanya-tanya Mengapa kehidupan tidak merata

Yang kaya makin kaya Yang miskin makin miskin Yang kaya makin kaya

 

Yang miskin makin miskin

 

Rebut Kesejahteraan

 

Benar kata Rhoma Irama dalam lagunya: "Negara bukan milik golongan/Dan juga bukan milik perorangan." Apa yang disebut dalam lagu tersebut adalah istilah untuk oligarki. Rhoma mengingatkan bahwa negara bukan "milik golongan" dan "milik perorangan". Namun demokrasi dalam kenyataanya menjadikan negara milik golongan dan perorangan. Inilah yang menyebabkan hanya segelintir golongan dan perorangan yang bisa hidup sejahtera. Sementara berjuta-juta yang lain hidup dalam kekurangan Sebagaimana puisi WS Rendra dalam Sajak Orang Kepanasan:

 

"Karena kami makan akar

dan terigu menumpuk di gudangmu

Karena kami hidup berhimpitan dan ruangmu berlebihan

maka kami bukan sekutu."

 

Rakyat miskin merupakan bagian dari sebagian yang tidak sejahtera, yaitu "kami" dalam sajak WS Rendra. Mereka harus hidup kekurangan di antara golongan dan perorangan yang kaya raya. Situasi inilah yang harus diubah. Demokrasi harus dikembalikan ke tangan rakyat. Keadilan sosial harus  berlaku  bagi  seluruh  rakyat  Indonesia.  Inilah  mengapa  kesejahteraan  harus  direbut. Mengapa  harus  direbut?  Karena  perubahan  tidak  turun  dari  langit.  Kaum  miskin  tidak  bisa berharap para oligarki akan secara sukarela membagikan kekayaan mereka pada kaum miskin. Oleh  karena  itu,  untuk  bisa  hidup  sejahtera  kaum  miskin  membutuhkan  usaha  keras  untuk merebut kesejahteraan dari tangan para oligarki.

 

Guna merebutnya, kaum miskin harus mempunyai sekutu. Sebagaimana dalam sajak WS Rendra, para  penumpuk  terigu  digudang  bukanlah  sekutu.  Mereka  adalah  lintah  yang  selama  ini menghisap tengkuk orang-orang miskin hingga hidup serba kesulitan. Lantas siapa sekutu bagi kaum miskin?

 

Sekutu bagi kaum miskin adalah kekuatan lain yang sama-sama dihisap dan ditindas. Mereka adalah kaum buruh dan tani. Bila buruh dihisap oleh para pemilik modal, kaum tani dihisap oleh tuan tanah dan industri-industri besar pertanian. Sebagai bagian dari kaum yang terhisap dan tertindas, buruh dan tani adalah sekutu utama kaum miskin. Adakah sekutu lain? Ada, yaitu mahasiswa, intelektual dan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan yang maju/progresif. Mereka memang tidak dihisap secara langsung, tapi mereka  mempunyai  pikiran  yang  maju  sehingga bersedia berjuang dengan kaum miskin, buruh dan tani. Dari kekuatan-kekuatan sepertilah itulah kaum miskin bisa bersekutu sehingga bisa menjadi kekuatan yang besar. Bila bisa bersatu maka akan membuat takut penguasa seperti yang disampaikan Wiji Thukul dalam sajak Nyanyian Akar Rumput:

 

"kami rumput butuh tanah dengar!

Ayo gabung ke kami

Biar jadi mimpi buruk presiden!"

 

Setelah memiliki sekutu, langkah selanjutnya adalah membentuk kekuatan bersama dalam sebuah organisasi. Inilah yang disebut sebagai front persatuan. Sebuah kekuatan yang mempunyai tujuan dan cita-cita yang sama untuk mencipatakan tatanan sosial, ekonomi dan politik yang adil. Sebuah tatanan tanpa penghisapan dan penindasan. Ayo, Bung! Rebut demokrasi dan kesejahteraan.*** (tim redaksi)