Bersatu, Berjuang Rebut Hak Sejahtera,

Lawan Kapitalisme Imperialisme!

image

Aku & Kartika

dpnspri

Aku & Kartika

By Dika Moehammad

 

BARU SEBULAN masuk sekolah, ketua kelasku mengumumkan bahwa minggu depan akan ada demonstrasi untuk menolak kenaikan uang SPP. Ketua kelasku ini perempuan yang belakangan saya kenal sebagai murid terpandai di antara teman-teman yang lain. Kartika namanya.

 

Kartika mengumumkan rencana ini pada menit-menit terakhir menjelang bel pulang sekolah berbunyi. Kebetulan pada saat itu guru pengajar tidak masuk, sehingga ada keleluasaan bagi Kartika untuk menjalankan perintah kakak-kakak pengurus OSIS.

 

“Untuk lebih jelasnya besok pagi akan ada pengumuman dari para pengurus OSIS,” ujar Kartika. Begitu selesai mengumumkan rencana demontrasi, kemudian Ia bertanya kepada pelajar yang lain. “Apa kalian setuju, bila kita mogok belajar memprotes kenaikan uang SPP?” tanya Kartika.

 

Sejenak teman-temanku ragu untuk menyambut pertanyaan tersebut. Namun demikian, begitu ada salah satu teman wanita nyeletuk “setuju!”. Dengan spontan yang lainnya ikut berseru; “SETUJU”.

 

“Oke, kalau begitu semua harus berjanji tidak akan ngebocorin rencana kita ke pihak sekolah”. Kartika menutup pembicaraan.

 

Sepulang dari sekolah aku sama sekali tidak memikirkan rencana demonstrasi itu dengan matang-matang. Ketika itu, aku tidak peduli apa manfaat dan resiko dari rencana tadi. Esok harinya di kelas juga tak banyak yang memperbincangkan rencana tersebut. Kebanyakan dari teman-teman hanya berpikir, ketika ada perintah untuk mogok belajar, berarti kami semua harus keluar dari kelas dan berkumpul di lapangan.

 

Tidak seperti demo-demo mahasiswa atau para buruh, biasanya sebelum demo mereka semua sibuk mempersiapan segala sesuatunya. Mulai dari rapat membicarakan tuntutan, siasatnya, hingga kebutuhan-kebutuhan teknis dilapangan, seperti membuat poster, menghubungi wartawan, membuat pernyataan sikap, dan lainnya. Sementara untuk rencana demonstrasi di sekolah nanti kami sama sekali tidak memiliki inisiatif untuk menyiapkannya dengan matang. Semuanya telah diatur dan disiapkan oleh Kartika bersama Kakak-kakak OSIS, tanpa melibatkan kami.

 

Sementara itu, di luar sekolah banyak orang meributkan kemerosotan ekonomi, dan mengeluhkan kondisi hidup, mulai dari susahnya cari uang, biaya hidup terus meningkat, dan tidak tersedianya lapangan kerja. Setiap lapisan, mulai dari tua, muda hingga anak-anak mengerti kalau bangsa kita ini sedang dilanda krisis ekonomi. Pada umumnya, banyak orang menyebutnya dengan istilah ’Krisis Ekonomi’ (Krismon).

 

Sebagian besar dari teman-temanku banyak berasal dari keluarga pas-pasan alias miskin. Sekolah tempat aku menimba ilmu juga sudah dikenal penduduk di sekitar sebagai sekolah bagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin. Kualitas para pengajar serta pasilitas sekolahnya pun sudah dapat ditebak: biasa-biasa saja. Para guru sering tidak masuk mengajar, kebanyakan yang diributkan oleh para guru hanya uang. Waktu itu aku masih ingat, tiga hari baru masuk sekolah pihak Tata Usaha menagih pelunasan cicilan uang pangkal. Hampir semua teman-teman sekelasku belum bisa melunasinya. Dari 42 murid hanya 7 siswa yang telah lunas membayar uang pangkal. Hampir setiap bulan banyak para murid yang menunggak uang SPP.

 

Aku dan teman-teman tidak menyadari, semangat Reformasi telah menyebar di antara kalangan pelajar di sekolahku. Ya, semangat Reformasi ini telah menyebabkan para siswa di sekolah tempat ku menimba ilmu menjadi demam demonstrasi. Maklum, di luar sekolah kami selalu mendengar siaran berita tentang demonstrasi massal yang sedang dilancarkan oleh para mahasiswa dan rakyat yang menuntut perubahan di negeri ini.

 

Jumat sekitar pukul 09.00, serombongan pengurus OSIS mengetuk pintu kelasku yang terkunci. Tak lama kemudian Pak Marjan guru Bahasa Inggris mempersilakan mereka untuk masuk. Sudah seperti biasanya, begitu mengetahui bahwa itu pengurus OSIS, Pak Marjan pergi meninggalkan kelas. Tiga orang pengurus OSIS dengan sigap mengedarkan kotak amal ke semua murid. Begitu selesai, khawatir diketahui Pak Marjan, salah satu diantara pengurus OSIS ini berjaga-jaga di depan pintu, begitu ada aba-aba dari penunggu pintu, dua orang penggurus OSIS yang sudah siap menyiarkan rencana Demo mulai bicara;

 

“Selamat siang adik-adik”

 

“Siang kak……” jawab kami dengan kompak.

 

“Mungkin kalian sudah dengar rencana kami, pengurus OSIS.”

 

“Sudah kak…dari ketua kelas kami”. Jawab salah satu dari teman kelasku.

 

“Kita mau ngadain demo tolak kenaikan SPP kan?”

 

“Betul sekali adik-adik, gini, rencananya kita semua akan demo pada hari senin. Kalian tentu siap dukung kami kan?” lanjut pengurus OSIS menjelaskan.

 

“Kalian harus tahu, kalau tuntutan ini berhasil, kalian juga yang diuntungin”. Semua diam, serius mendengarkan ucapan yang keluar dari kedua pengurus OSIS. “Biar nggak terlalu lama, gini aja, hari senin, begitu ada aba-aba untuk keluar dari kelas kalian harus ikuti’’. Ujar Pengurus OSIS menutup pembicaraan.

 

Setelah itu kakak-kakak pengurus OSIS ini dengan cepat keluar meninggalkan kelas. Kami semua melanjutkan pelajaran Bahasa Inggris. Setengah jam kemudian bel pulang berbunyi. Hingga Sabtu esokan harinya, pihak sekolah tidak menunjukkan tanda-tanda mengetahui rencana kami. Sementara itu, kami sendiri tidak mengetahui apa saja yang sedang diperbuat oleh pengurus OSIS.

 

Sejak diketahui ada rencana mau demo, Kartika selalu datang lebih awal disekolah dan pulang paling terakhir. Ketika Kartika ditanya oleh teman sebangkunya, mengapa tiap pagi ia tidak lagi berkumpul dengan teman-teman sekelasnya, Kartika hanya menjawab, dia harus berkumpul dengan kakak-kakak pengurus OSIS, dari raut wajahnya terlihat tegang. Seolah menyimpan rasa takut.

 

Tiba waktunya pada Senin pagi. Begitu bel masuk berbunyi, kami mendapat aba-aba untuk keluar dari kelas. Sebagian kakak-kakak dari kelas III sudah berkumpul di lapangan. Satu jam berkumpul di lapangan, tidak ada orasi, tidak ada poster maupun sepanduk. Juga tidak kami ketahui apa saja yang sedang dinegosisikan oleh para penguru OSIS ke pihak sekolah. Aku hanya bisa plonga-plongo dan teman-teman yang lain sibuk ngerumpi.

 

Tak lama kemudian entah apa yang terjadi pada pengurus OSIS, kami semua diperintahkan oleh Bapak Sirait untuk masuk kelas. Dia mengatakan bahwa tuntutan kami sedang diproses dan kami semua tidak perlu menunggu sambil mogok belajar di lapangan upacara. Dengan nurut kami semua kembali masuk ke dalam kelas. Bapak Sirait ini guru pengajar olahraga, dia satu-satunya guru yang disegani oleh banyak murid di sekolahku karena kedekatanya dengan militer. Gaya dan penampilan ini mengikuti gaya militer. Selalu memakai atribut militer.

 

Sepuluh menit kemudian, Ibu Ida, guru pengajar Akuntansi, memasuki ruang kelasku. Satu jam sudah kami mengikuti pelajaran Akuntansi, tak lama kemudian, Kartika, ketua kelas kami memasuki kelas dengan wajah sedih. Begitu memasuki ruang kelas dia cuma mengambil tasnya dan tak kembali sampai jam belajar selesai. Suasana kelas di geluti dengan rasa takut. Tak ada satupun siswa yang coba-coba mengorek apa yang sedang terjadi pada diri Kartika dan Kakak-kakak OSIS.

 

Ketika meninggalkan ruang kelas, Kartika tidak seperti biasanya menyapa teman sebangkunya yang kebetulan duduk tiga bangku di deretan depan tempat aku duduk. Aku merasakan betul, hampir semua siswa merasa takut kalau-kalau ikut dipanggil oleh pihak sekolah, termasuk diriku sendiri. Rasa takut ini mulai muncul setelah Kartika kembali dengan raut wajah sedih.

 

Hari-hari berikutnya, tak lagi terdengar apakah ada tuntutan kami yang akan dipenuhi pihak sekolah. Di benak kami hanya ada rasa takut mendapat hukuman. Pihak sekolah, lewat para wali kelas dan guru, selalu menakut-nakuti para siswa dengan ujaran“Kalian tahu apa yang sekarang di alami oleh ketua kelas dan kakak-kakak OSIS? Mereka semua sedang mendapat hukuman dari kepala sekolah, gara-gara ulahnya”. Kata-kata itu seolah menjadi senjata sakti untuk menakuti para murid.

 

Sejak kejadian itu, hampir seminggu lamanya aku perhatikan, Kartika selalu murung. Bagaimana tidak setiap pagi sebelum bel masuk, dia wajib menghadap kepsek. Dan selesainya dari menghadap Kepsek, dari raut mukanya selalu tersiar perasaan sedih dan takut. Teman-teman tidak ada yang berani mendekatinya. Teman sebangkunya, yang biasa akrab mengobrol, sejak kejadian itu tak lagi terlihat keakrabannya.

 

Aku mengerti akan hal itu karena sebagian dari teman-teman dihantui oleh perasaan takut mendapat hukuman dari pihak sekolah. Aku pun juga tidak punya keberanian untuk bertanya atau mencari tahu pada Kartika tentang apa yang sedang menimpa dirinya. Sejak masuk sekolah aku memang tidak punya kedekatan dengan kartika. Dalam hati, aku merasa Kartika orang yang telah berjasa karena berani memperjuangkan nasib kami. Berkali-kali perasaan ini ku lontarkan pada banyak teman pria, Tetapi mereka hanya menanggapinya dengan perasaan yang sama seperti diriku.

 

Begitu juga dengan para guru, tak ada satupun yang mau memberikan pembelaan pada Kartika. Termasuk guru AGAMA dan PPKn, yang konon banyak mengajarkan nilai-nilai kebaikan hidup didunia, sama sekali tidak memberi dukungan pada Kartika yang sedang dirundung duka karena memperjuangkan keadilan bagi para siswa. Para guru malah bilang, “kalau kalian demo tuntut SPP turun, nanti gaji saya ikut turun !”

 

Juga masih kuingat, para guru yang semula sangat simpatik dengan Kartika, menjadi berbalik arah. Kini hampir tiap pelajaran, para guru yang sebelumnya sering memuji-muji Kartika karena kepandaiannya, tak lagi memujinya. Bahkan setiap pertanyaan yang biasanya selalu di lemparkan untuk dijawab oleh Kartika, kini di lempar pada siswa yang lain, meski siswa tersebut menjawab dengan salah si guru tetap merasa senang. Melihat keadaan ini Kartika hanya bisa diam sambil sibuk menulis-nulis. Tentunya dengan perasaan yang dirundung sedih.

 

Tidak seperti biasanya, hari senin, kurang lebih seminggu sejak kejadian tersebut, terakhir kali aku masih bisa bertemu dan belajar dengan Kartika dalam satu kelas. Kini suasana itu tidak lagi kembali, aku tak bisa bertemu dan belajar dengan Kartika selamanya. Dari cerita teman-teman belakangan kuketahui, Kartika tidak tahan merasakan tekanan dari Pak Kepsek.

 

Konon katanya, setiap kali ia menghadap Kepsek, Pak Kepsek selalu meminta ia pindah sekolah dan membawa orang tuanya untuk menjelaskan maksudnya ini. Namun lima hari Kartika diberi kesempatan untuk menghadirikan orang tuanya, hingga hari senin berikutnya, Kartika tidak juga membawa orang tuanya. Menurut teman sebangkunya, selama ini ia dititipkan oleh ibunya oleh sang paman. Ia takut kalau hal ini diketahui oleh sang paman. Bisa-bisa ia malah mendapat cacian yang ngak karuan.

 

Kami semua yang simpatik dengan perjuangannya merasa marah dengan tindakan sekolah yang telah menyebabkan Kartika berhenti sekolah. Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena kami tak punya keberanian untuk melawan pihak sekolah. Kemarahan yang ada hanya kami sembunyikan dalam hati. Setiap hari kepergian Kartika selalu menjadi bahan perbincangan teman-teman.

 

Kartika telah hilang dari kelas. Perjuanganya pun tak lagi membekas. Seperti biasa-biasanya, kesulitan biaya sekolah tidak lagi jadi bahan bakar api perjuangan. Pelajaran dari Kartika, ketua kelas malang yang telah mengajarkan cara melontarkan keberatan dan ketidak adilan, sama sekali tidak membekas sebagai nasehat dan contoh baik yang harus terus diikuti.

 

Justru sebaliknya hanya pelajaran negatif dari pihak sekolah yang selalu mengenang kami untuk tidak mengikuti jejak Kartika. Sekolah telah mengajarkan pada kami, bila kami memprotes ketidak-baikan yang telah menimpa kami, jawabnya selalu menakutkan; kami akan bernasib sama seperti Kartika. Ini-kah pelajaran demokrasi yang harus di ajarakan pada semua siswa?

 

Sungguh kejam hidup di negeri ini. Sejak disekolah kami diajarkan untuk tidak boleh memprotes. Diluar sekolah kami mendengar para mahasiswa dan rakyat berbondong-bondong turun ke jalan memprotes agar Soeharto mundur dari kursi presiden dan menuntut pemberantasan KKN. Banyak masyarakat memberikan dukungannya, termasuk para guru disekolahku. Tapi kenapa disekolah tidak sama seperti dijalanan? Apakah Reformasi melarang siswa untuk menggunakan demonstrasi sebagai cara menolak ketidak adilan? Apa guna pelajaran disekolah, bila dalam kehidupan sekolah, Kartika mendapat perlakuan keji.

 

Sayang sungguh disayang, kenapa pihak sekolah yang notabene paling mengetahui tentang nilai-nilai kebaikan, justru berlaku tidak adil terhadap Kartika? Demonstrasi ‘seolah‘ perbuatan jahat yang tidak bisa dibenarkan oleh ajaran sekolah, sehingga sah bila pihak sekolah mengatasinya dengan jalan mengeluarkan Kartika dan mengancam para murid. Begitulah kira-kira nilai yang dapat kami tangkap.

 

Bukankah Soehato yang jahat hanya bisa di turunkan dengan jalan Demonstrasi? Bukan dengan musyawarah mufakat, perundingan atau menunggu kebaikan datang dari diri Soeharto?

 

Jakarta, 17 Juli 2006